MAKASSAR , UPT SPF SMPN 31 Makassar terus mendorong transformasi digital dalam pengelolaan administrasi sekolah melalui inovasi SIMAK 31 (Sistem Monitoring Absensi dan Kehadiran 31 Makassar).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim inovasi UPT SPF SMPN 31 Makassar yang diketuai Indra Syamsuddin, S.Pd., M.Pd., Gr, sebagai upaya menghadirkan sistem pencatatan dan pemantauan kehadiran siswa yang lebih efektif, cepat, dan mudah diakses.
Berdasarkan kajian inovasi SIMAK 31, sistem absensi yang sebelumnya dilakukan secara manual menggunakan buku absensi menghadapi sejumlah kendala. Proses rekapitulasi membutuhkan waktu yang cukup lama, terdapat risiko kesalahan pencatatan maupun kehilangan data, sementara wali kelas juga mengalami kesulitan dalam melakukan pemantauan kehadiran siswa secara real-time.
Kondisi tersebut mendorong UPT SPF SMPN 31 Makassar mengembangkan sistem absensi digital berbasis Google Sheets. Pemanfaatan layanan digital tersebut dipilih sebagai solusi yang mudah, murah, dan dapat diakses dari berbagai tempat tanpa harus bergantung pada aplikasi berbayar.
Ketua Tim Inovasi UPT SPF SMPN 31 Makassar, Indra Syamsuddin, S.Pd., M.Pd., Gr, menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi SIMAK 31 yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan administrasi kehadiran siswa di lingkungan sekolah.
Melalui SIMAK 31, pencatatan kehadiran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada proses manual. Sistem ini dirancang untuk mempermudah pencatatan kehadiran, menyediakan data secara real-time, meminimalkan kesalahan input, serta mempercepat proses rekapitulasi dan pelaporan.
Dari sisi implementasi, inovasi ini menjawab sejumlah tantangan yang selama ini dihadapi dalam administrasi kehadiran siswa, mulai dari keterbatasan waktu guru dalam melakukan rekapitulasi, belum terintegrasinya sistem absensi secara digital, kebutuhan terhadap data yang cepat dan akurat, hingga keterbatasan anggaran untuk pengadaan aplikasi berbayar.
Penerapan SIMAK 31 menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengelolaan absensi. Jika sebelumnya absensi dilakukan secara manual, proses rekapitulasi membutuhkan waktu lama, rawan kesalahan, laporan disusun secara manual, dan monitoring kehadiran relatif sulit, maka setelah inovasi diterapkan proses tersebut berubah menjadi absensi digital, rekapitulasi otomatis, data yang lebih akurat, laporan yang tersedia secara real-time, serta monitoring kehadiran yang lebih mudah.
Kehadiran SIMAK 31 sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital di lingkungan pendidikan tidak selalu harus diwujudkan melalui sistem yang kompleks dan berbiaya tinggi. Dengan memanfaatkan perangkat digital yang tersedia, sekolah dapat membangun sistem administrasi yang lebih sederhana namun tetap memberikan manfaat dalam pengelolaan data kehadiran.
Inovasi tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola administrasi kehadiran siswa di UPT SPF SMPN 31 Makassar, sekaligus mendukung kebutuhan sekolah terhadap data yang cepat, akurat, dan mudah dipantau.(hae)