LUWU TIMUR – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, membuat kondisi jalur hauling yang digunakan PT Citra Lampia Mandiri (CLM) berubah drastis. Permukaan jalan yang becek, dan sangat licin kini menjadi pemandangan umum, sekaligus ancaman nyata bagi keselamatan setiap pengguna jalan yang melintasinya, Senin (25/5/2026).
Kondisi infrastruktur yang memburuk ini dinilai sangat berisiko, terutama bagi para pengemudi truk pengangkut bijih nikel yang beroperasi setiap hari dilokasi tersebut. Keprihatinan ini muncul mengingat jalur yang sama pernah menjadi saksi musibah fatal yang merenggut nyawa seorang pengemudi dum truk. Peristiwa itu sempat menghentikan sementara aktivitas operasional perusahaan, namun tampaknya perbaikan mendasar terkait sistem pengelolaan dan pengawasan belum terlihat maksimal.
Pantauan di lapangan ada beberapa kendaran yang mundur ditanjakan dan informasi yang dihimpun menunjukkan masih ada celah serius dalam pengawasan operasional, khususnya terkait armada yang dioperasikan oleh para kontraktor. Meskipun prosedur kelayakan kendaraan atau komisioning diklaim telah dilaksanakan, proses tersebut dinilai sarat kejanggalan. Ada dugaan kuat bahwa tahapan verifikasi tersebut hanyalah formalitas belaka, mengingat pihak yang dilibatkan dalam pengecekan adalah mekanik dari perusahaan kontraktor itu sendiri, bukan tim independen. Hal ini membuat standar kelayakan kendaraan patut dipertanyakan validitasnya.
Menyikapi kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini, Haerudin, Tokoh Pemuda Desa Pongkeru, meminta manajemen PT CLM untuk serius meninjau kembali standar keselamatan kerja dan pemeliharaan jalan. Ia menegaskan bahwa jalur hauling tersebut bukan sekadar akses khusus operasional tambang, melainkan juga merupakan satu-satunya jalur vital bagi warga masyarakat di wilayah Salubongko, Desa Harapan, hingga Salulauwa, Desa Pongkeru, untuk mengakses lahan pertanian mereka.
"Perusahaan harus lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menjalankan operasionalnya. Ingatlah, jalur ini juga menjadi jalan hidup bagi warga sekitar. Risiko kecelakaan sangat tinggi, apalagi saat kondisi hujan seperti sekarang di mana jalan menjadi sangat licin," tegas Haerudin.
Secara geografis, jalur hauling ini memiliki karakteristik medan yang cukup ekstrem. Kontur jalan yang naik-turun tajam, serta memiliki kemiringan dan panjang jalur pendakian serta penurunan yang curam, semakin memperparah risiko bahaya saat permukaan jalan basah atau berlumpur. Dalam kondisi seperti ini, kendaraan sangat berpotensi kehilangan kendali, tergelincir, mundur, hingga terbalik.
Peringatan dari tokoh pemuda ini bukan tanpa alasan. Sejarah kelam pernah tercatat di KM 18 Dusun Salulauwa, Desa Pongkeru, ketika sebuah kecelakaan kerja merenggut nyawa seorang pengemudi dum truk saat bertugas melintasi jalur tersebut. Peristiwa itu meninggalkan trauma sekaligus pelajaran penting mengenai betapa krusialnya aspek keselamatan kerja dan pemeliharaan jalan.
Hingga berita ini diturunkan, warga dan tokoh masyarakat berharap manajemen PT CLM segera mengambil langkah nyata. Perbaikan struktur jalan, pemeliharaan rutin, hingga penegakan standar keselamatan yang ketat dianggap wajib dilakukan demi mencegah terulangnya musibah serupa yang merugikan banyak pihak.