LUTIM – Forum Pemuda Pongkeru (FPP) melakukan aksi spontan dengan menahan sejumlah kendaraan trailer milik PT Huayu Nikkel Indonesia (HNI) yang mengangkut material proyek Sorowako Limonit (Sorlim) di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Kamis (9/4/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan pemuda Desa Pongkeru atas belum adanya kejelasan dari pihak perusahaan terkait tuntutan pemberdayaan masyarakat lokal.
Sebelumnya, FPP telah melakukan pertemuan dengan pihak PT HNI pada 29 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, perusahaan diminta mengakomodasi tiga poin tuntutan sebagai bentuk komitmen terhadap wilayah terdampak.
Adapun tiga tuntutan Forum Pemuda Pongkeru meliputi:
1. Perekrutan tenaga kerja dari Desa Pongkeru untuk ditempatkan pada posisi eksternal perusahaan yang bertugas menjembatani komunikasi antara perusahaan dan masyarakat.
2. Pelibatan kontraktor lokal Desa Pongkeru sebagai mitra kerja dalam pelaksanaan kegiatan proyek.
3. Keterbukaan informasi dalam proses perekrutan tenaga kerja, baik tenaga terampil maupun non-terampil, melalui pemerintah desa atau Forum Pemuda Pongkeru.
Ketua FPP, Amir Asri, menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan waktu kepada PT HNI untuk merespons tuntutan tersebut.
“Kami sudah menekankan agar tiga poin ini segera diakomodasi. Saat pertemuan, pihak HNI menyampaikan akan berkoordinasi dengan pimpinan. Namun hingga batas waktu yang diberikan, belum ada jawaban yang memuaskan,” ujar Amir.
Ia menambahkan, FPP telah membuat berita acara pertemuan dan memberikan tenggat waktu 1x7 hari. Karena tidak ada kejelasan, FPP akhirnya mengambil langkah dengan menghentikan sementara armada trailer yang digunakan untuk pengangkutan material dari Pelabuhan Waru-waru, Lampia menuju lokasi proyek di Sorowako.
Sementara itu, tokoh pemuda Desa Pongkeru, Haeruddin, menilai PT Vale Indonesia seharusnya turut hadir dan bertanggung jawab dalam persoalan ini, mengingat proyek tersebut merupakan bagian dari kerja sama dengan mitranya.
“PT Vale tidak boleh tutup mata. Mereka harus mengontrol mitranya, apalagi menyangkut pemberdayaan masyarakat. Selama ini kontribusi terhadap tenaga kerja lokal maupun kontraktor lokal masih sangat minim,” tegasnya.
Haeruddin juga menyoroti keberadaan infrastruktur pipa bahan bakar milik PT Vale yang melintasi wilayah Desa Pongkeru. Menurutnya, selain berisiko tinggi, keberadaan fasilitas tersebut belum diimbangi dengan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Ia mengingatkan, insiden kebocoran pipa yang pernah terjadi di wilayah lain menjadi bukti potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Kalau terjadi di wilayah kami, masyarakat hanya akan menerima dampak tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek Sorowako Limonit (Sorlim) merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) milik PT Vale Indonesia Tbk. Proyek ini bertujuan mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Dalam pengembangannya, PT Vale bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt, untuk pembangunan fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Sorowako yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2027.
Namun di tengah proses pengerjaan proyek, muncul aktivitas PT Huayu Nikkel Indonesia (HNI) yang melakukan pengangkutan material proyek. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait posisi dan peran perusahaan tersebut dalam struktur kerja sama proyek.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT HNI maupun PT Vale Indonesia belum memberikan keterangan resmi.(hae)