MAKASSAR – Potensi penyandang disabilitas dalam bidang pendidikan, sosial, olahraga, dan budaya menjadi fokus kegiatan diseminasi dan sosialisasi yang digelar di Kota Makassar, 20 September 2024.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah pemerhati pendidikan inklusif sebagai upaya memperluas pemahaman tentang kemampuan, peran, serta kontribusi penyandang disabilitas dalam kehidupan bermasyarakat.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai kalangan, di antaranya orang tua penyandang disabilitas, guru Sekolah Luar Biasa (SLB), penggiat kepedulian terhadap tunarungu, serta penggiat kepedulian terhadap tunanetra di Kota Makassar.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat membangun sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas dalam mendukung pengembangan potensi penyandang disabilitas.
Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Hamsu Abdul Gani, sebagai narasumber utama, didampingi A. M. Fadlih, dosen UNM yang aktif dalam kajian pendidikan dan olahraga disabilitas.
Dalam pemaparannya, Prof. Hamsu Abdul Gani menjelaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki minat, kemampuan, dan potensi yang beragam. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui pemberian kesempatan, akses informasi, serta dukungan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Menurutnya, pengembangan potensi penyandang disabilitas dapat dilakukan melalui empat bidang utama, yakni pendidikan, sosial, olahraga, dan budaya.
Pada bidang pendidikan, pengembangan potensi dapat diwujudkan melalui kesempatan belajar, peningkatan keterampilan, menghasilkan karya, serta berpartisipasi aktif di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dalam hal ini, orang tua dan guru memiliki peran penting untuk mengenali minat serta memberikan ruang bagi penyandang disabilitas dalam mengembangkan kemampuannya.
Sementara pada bidang sosial, penyandang disabilitas perlu mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam organisasi, kegiatan kemasyarakatan, kerja sukarela, hingga proses pengambilan keputusan. Dukungan masyarakat menjadi faktor penting agar mereka dapat menyampaikan gagasan dan berkontribusi sesuai kemampuan serta kompetensinya.
Di bidang olahraga, pengembangan potensi tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga mencakup rekreasi, kebugaran, dan interaksi sosial. Untuk itu, diperlukan dukungan berupa penyesuaian sarana, akses komunikasi, serta pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing peserta.
Adapun dalam bidang budaya, penyandang disabilitas memiliki peluang untuk berperan sebagai pencipta karya, pelaku seni, penampil, maupun bagian dari upaya pelestarian budaya. Ketersediaan ruang ekspresi yang aksesibel diharapkan dapat membuka kesempatan lebih luas bagi mereka untuk terlibat dalam kehidupan budaya masyarakat.
Melalui kegiatan ini, keluarga, pendidik, dan para penggiat disabilitas diharapkan semakin memahami pentingnya mengenali serta mengembangkan potensi penyandang disabilitas. Sinergi berbagai pihak juga diharapkan mampu mendorong terciptanya kesempatan yang lebih setara bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.(hae)